publikzone.com


Kegemukan Yang Bikin Minder



PENULIS : NELCA EVRI MOFYANI, MAHASISWI FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Kegemukan atau obesitas merupakan kondisi kelebihan lemak yang terakumulasi dalam tubuh. Penyebabnya bisa bersumber dari faktor genetik, lingkungan, gaya hidup, dan pola makan yang kurang sehat. Menkonsumsi makanan berlebih dan jarang olahraga menjadi faktor kuat pemicu obesitas. 

Kelebihan berat badan tentunya akan berdampak buruk bagi kesehatan. Timbunan lemak dapat beresiko menyebabkan penyakit serius seperti serangan jantung, diabetes, hipertensi, stroke, fisik ortopedik serta kanker prostat dan kanker usus besar. Tak hanya itu, Obesitas juga dapat menyebabkan gangguan psikologi seperti kurang percaya diri hingga depresi.

Berdasarkan data Riskesda dari kementerian kesehatan Republik Indonesia tahun 2018, proporsi obesitas pada dewasa >18 tahun mencapai 21,8 %. Provinsi yang memiliki proporsi obesitas pada dewasa > 18 tahun berada di provinsi Sulawesi Utara yaitu sebesar 30.2%.

Hasil study yang dirangkum penulis, kegemukan rentan terjadi dilintas usia, mulai dari masa bayi, anak-anak, hingga pada saat dewasa. Bahkan, wanita muda maupun ibu-ibu lebih cenderung mengalami kelebihan berat badan. Meski keinginan untuk memiliki ukuran tubuh ideal sangat tinggi, namun program diet dan olahraga justru terasa menyiksa karena terbentur rasa malas dan nafsu makan yang tidak terkontrol.

Disisi lain, remaja khususnya kalangan pelajar seringkali salah memilih menu makanan untuk memenuhi kebutuhan gizi. Mereka indentik memilih makanan cepat saji karena dapat dihidangkan dan diolah secara sederhana. Kemasan yang higienis sering dianggap makanan bergengsi, modern, juga makanan gaul bagi anak muda.

Meski praktis secara penyajian, namun makanan cepat saji banyak mengandung lemak dan garam yang justru rendah akan kadar serat. Menkonsumsi makanan ini secara berlebihan dapat meningkatkan resiko obesitas. Makanan cepat saji yang dimaksud adalah jenis makanan instan dalam kemasan yang termasuk dalam jenis junk food. 

Selain itu, obesitas juga rentan diderita oleh individu yang jarang melakukan olahraga. Sejatinya, resiko kenaikan berat badan dapat ditanggulangi dengan melakukan aktivitas fisik rutin serta menjaga pola makan sehat yang berimbang. Keduanya sangat penting dan perlu dijalankan secara beriringan.

Dikalangan kaum hawa, memiliki postur tubuh gemuk menjadi momok yang sangat menakutkan. Sebab, perempuan bertubuh gemuk kerap menjadi bahan ejekkan, dikucilkan, dan bahkan dibully. Untuk itu, mereka terkadang melakukan diet ekstrim demi mendapatkan bentuk tubuh menarik dan proporsional. 

Bagi wanita, memiliki body goals dan tubuh ideal merupakan suatu kebanggaan. Sedangkan, masalah tubuh gemuk membuat kaum hawa tidak tampil percaya diri (Minder). Mereka beranggapan bentuk tubuh gemuknya selalu menjadi bahan perbincangan orang kala tampil dikeramaian.

Permasalahan lain yang sering dialami oleh remaja obesitas adalah gangguan psikososial karena pengaruh dari stigma. Stigma obesitas dapat menyebabkan remaja obesitas  memiliki ketidakpuasan terhadap bentuk tubuhnya. Rasa ketidakpuasan ini biasanya muncul akibat faktor pembullyan baik secara fisik maupun ejekan.

Diketahui, Remaja obesitas mudah mengalami gangguan psikososial karena memiliki percaya diri yang rendah, presepsi diri yang negatif, rasa rendah diri serta menjadi bahan ejekkan teman-temannya. Gangguan psikososial dapat terjadi oleh dua faktor yaitu faktor internal maupun eksternal. Faktor internal merupakan faktor dari anak itu sendiri, yaitu keinginan untuk menguruskan badan dan merasa berbeda dengan anak lain sehingga anak obesitas mempunyai rasa percaya diri yang rendah dan mengalami depresi. 

Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari lingkungan yang memberi stigma pada anak obesitas yang dianggap sebagai anak yang malas, bodoh, dan lamban. Lingkungan merupakan keseluruhan fenomena fisik atau sosial yang mempengaruhi atau dipengaruhi perkembangan remaja, meliputi lingkungan keluarga, sekolah, teman sebaya dan masyarkat.

Peran dari orang tua juga sangat penting dalam mendukung semua hal-hal positif yang dilakukan oleh anak remaja tersebut. Memberi pengertian yang baik bagaimana melakukan penurunan berat badan yang baik sesuai dengan yang anjurkan oleh ahli gizi atau bisa dilakukan dengan menggunakan cara diet yang sehat. Serta orang tua juga harus memperhatikan pola makan anak seperti memberikan porsi makan yang tepat dan rendah kalori. 

Dari study diatas, penulis mencoba merangkum faktor-faktor penyebab dan dampak dari obesitas :

A. Genetik 

Kegemukan dapat diturunkan dari generasi sebelumnya pada generasi berikutnya didalam sebuah keluarga. Itulah sebabnya kita seringkali menjumpai orangtua yang gemuk cenderung memiliki anak-anak yang gemuk pula. Hal ini dimungkinkan karena pada saat  ibu yang obesitas sedang hamil maka unsur sel lemak yang berjumlah besar dan melebihi ukuran normal, secara otomatis akan diturunkan kepada sang bayi selama dalam kandungan. Maka tidak heranlah bila bayi yang lahirpun memiliki unsur lemak tubuh yang relatif sama besar. Seorang anak punya 40% kemungkinan mengalami kegemukan, bila salah satu orangtuanya obesitas. Bila kedua orangtuanya kelebihan berat badan, maka kemungkinan seorang anak mengalami obesitas pun naik hingga 80%.

B. Kerusakan pada salah satu bagian otak.

Sistem pengontrol yang mengatur perilaku makan terletak pada suatu bagian otak yang disebut hipotalamus. Dua bagian hipotalamus yang mempengaruhi penyerapan makan yaitu hipotalamus lateral (HL) yang menggerakan nafsu makan (awal atau pusat makan); hipotalamus ventromedial (HVM) yang bertugas merintangi nafsu makan (pemberhentian atau pusat kenyang). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa bila HL rusak/hancur maka individu menolak untuk makan atau minum, dan akan mati kecuali bila dipaksa diberi makan dan minum (diberi infus). Sedangkan bila kerusakan terjadi pada bagian HVM maka seseorang akan menjadi rakus dan kegemukan. 

C. Pola Makan Berlebihan 

Orang yang kegemukan lebih responsif dibanding dengan orang berberat badan normal terhadap isyarat lapar eksternal, seperti rasa dan bau makanan, atau saatnya waktu makan. Orang yang gemuk cenderung makan bila ia merasa ingin makan, bukan makan pada saat ia lapar. Pola makan berlebih inilah yang menyebabkan mereka sulit untuk keluar dari kegemukan jika sang individu tidak memiliki kontrol diri dan motivasi yang kuat untuk mengurangi berat badan.

D. Kurang Gerak/Olahraga 

Meski aktivitas fisik hanya mempengaruhi satu pertiga pengeluaran energi seseorang dengan berat normal, tapi bagi orang yang memiliki kelebihan berat badan aktivitas fisik memiliki peran yang sangat penting. Pada saat berolahraga kalori terbakar, makin banyak berolahraga maka semakin banyak kalori yang hilang. Kalori secara tidak langsung mempengaruhi sistem metabolisme basal. Orang yang duduk bekerja seharian akan mengalami penurunan metabolisme basal tubuhnya. Kekurangan aktifitas gerak akan menyebabkan suatu siklus yang hebat, obesitas membuat kegiatan olah raga menjadi sangat sulit dan kurang dapat dinikmati dan kurangnya olah raga secara tidak langsung akan mempengaruhi turunnya metabolisme basal tubuh orang tersebut.

E. Pengaruh emosional

Sebagian orang yang kelebihan berat badan tidaklah lebih terganggu secara psikologis dibandingkan dengan orang yang memiliki berat badan normal. Meski banyak pendapat yang mengatakan bahwa orang gemuk biasanya tidak bahagia, namun sebenarnya ketidakbahagiaan batinnya lebih diakibatkan sebagai hasil dari kegemukannya. Hal tersebut karena dalam suatu masyarakat seringkali tubuh kurus disamakan dengan kecantikan, sehingga orang gemuk cenderung malu dengan penampilannya dan kesulitannya mengendalikan diri terutama dalam hal yang berhubungan dengan perilaku makan. 

F. Lingkungan

Faktor lingkungan ternyata juga mempengaruhi seseorang untuk menjadi gemuk. Jika seseroang dibesarkan dalam lingkungan yang menganggap gemuk adalah simbol kemakmuran dan keindahan maka orang tersebut akan cenderung untuk menjadi gemuk. Selama pandangan tersebut  tidak dipengaruhi oleh faktor eksternal maka orang yang obesitas tidak akan mengalami masalah-masalah psikologis sehubungan dengan kegemukan.

G. Dampak Dari Obesitas :

Obesitas dapat menyebabkan berbagai masalah fisik maupun psikis, masalah fisik seperti ortopedik sering disebabkan karena obesitas, termasuk nyeri punggung bagian bawah, dan memperburuk osteoarthritis (terutama di daerah pinggul, lutut, dan pergelangan kaki). Seseorang yang menderita obesitas memiliki permukaan tubuh yang relative lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak. Obesitas meningkatkan resiko terjadinya sejumlah penyakit menahun antara lain sebagai berikut: Diabetes tipe 2 (timbul pada masa remaja), Tekanan darah tinggi, Stroke, Serangan jantung, Gagal jantung, Kanker (jenis kanker tertentu, misalnya kanker prostat dan kanker usus besar), Batu kandung empedu dan batu kandung kemih, Gour dan arthritis, Osteoastritis, Tidur apnea (kegagalan bernafas secara normal ketika tidur, menyebabkan berkurangnya kadar oksigen dalam darah), Sindroma pickwiskian (obesitas disertai wajah kemerahan, underventilasi, dan ngantuk.

Posting Komentar

0 Komentar