Home » , , » Minim Pengawasan, Proyek Kementerian PUPR Senilai 10,3 Miliar Diduga Rawan Penyimpangan

Minim Pengawasan, Proyek Kementerian PUPR Senilai 10,3 Miliar Diduga Rawan Penyimpangan

Written By zonapublik on Minggu, 04 November 2018 | 20.14

PRABUMULIH, PUBLIKZONE --- Proyek Beton pemecah arus (Hexsapods) untuk aliran sungai lematang di  Kelurahan Payuputat Kota Prabumulih  disinyalir minim pengawasan. Bahkan Proyek tahap 1 senilai Rp 10,3 miliar yang bersumber dari dana APBN Kementerian PUPR tersebut tidak memiliki papan proyek.

Ahmad selaku masyarakat setempat mengatakan, pihak rekanan kontraktor tidak memasang papan nama proyek dilokasi pengerjaan hexapods. Apalagi menurutnya, pihak pengawas baik itu dari Dinas PUPR Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VII Provinsi Sumsel Maupun pihak konsultan sendiri jarang terlihat.

"Kita ini warga setempat dan sering melihat ke lokasi. ya sejauh ini jarang ada pengawasan, bahkan dilokasi tidak ada papan proyeknya pak. Kita menduga jika kurang pengawasan tentunya rentan terjadi penyimpangan. Kita lihat bahwa setelah tercetak, beton hexapod tersebut langsung dimasukkan ke sungai lematang," Ujar Madi saat diwawancarai, Minggu (4/11).

Sementara itu, Tulus Simanjuntak selaku pelaksana lapangan PT Lamsaruly Artha Kencana menjelaskan, sejauh ini pihak dinas terkait dan konsultan sering melakukan pengawasan dan pengecekan langsung dilapangan. 

"Sebenarnya pihak dinas PU dan konsultan selalu mengawasi pekerjaan kita. Hari ini, secara kebetulan mereka sedang ada pekerjaan di Palembang saat teman teman media datang. Terkait masalah papan proyek, Itu sebenarnya sudah kita pasang namun karena menggangu lokasi pekerjaan makanya kita copot," Ungkapnya.

Dijelaskan Tulus, Pihaknya membuat hexapods sebanyak 4525 buah dengan anggaran Rp 10,3 miliar dari dana APBN Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VII Provinsi Sumsel. Nantinya hexapods tersebut akan diletakan bertumpuk tidak beraturan dibeberapa titik bantaran sungai lematang. Hal ini bertujuan agar arus sungai lematang yang deras dapat di pecah sehingga tidak langsung menghantam dinding bantaran sungai.

"Hexapods kita cetak sendiri dengan material adukan semen, pasir, koral dan besi. Hexapods merupakan beton bertulang K 225. Pekerjaan di mulai dari bulan Agustus dan progres pengerjaannya sudah diatas 80 persen," tegasnya.

Ditempat terpisah, Lurah Payuputat Edi Susanto SE menjelaskan, sejauh ini proyek tersebut tidak ada masalah. Pihaknya berharap agar rekanan kontraktor tetap konsisten dan memperhatikan mutu beton. Menurutnya, jika kualitas beton bagus tentunya fungsi Hexsapod sebagai  pengalih arus akan lebih baik untuk mengurangi dampak banjir yang selama ini sering terjadi.

"Selain pemecah arus, hexapods juga untuk mempertahankan dinding penahanan tanah supaya tidak abrasi akibat terjangan air sungai yang cukup deras. Semoga pihak pemborong bisa mempertahankan kualitas pekerjaannya, sekaligus menepati janji kepada masyarakat untuk memperbaiki jalan yang rusak akibat lalu lalang kendaraan proyek mereka. Kami berharap semua pihak turut mengawasi proyek tersebut karena nilainya cukup besar," pungkasnya. (Red)
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Jun Manurung | Jun dkk
Copyright © 2016. Publik Zone - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by POSMETRO CYBER GROUP
Proudly powered by Blogger