publikzone


Kepala Seksi Dinas Kesehatan Kota Prabumulih Kurang Kooperatif

PRABUMULIH, PUBLIKZONE -- Sistem keterbukaan informasi yang ada di Organisasi Perangkat Daerah (OPD) khusunya di instansi dinas kesehatan kota Prabumulih, dinilai kurang maksimal. Padahal keterbukaan informasi sangat dibutuhkan masyarakat sebagai bahan acuan dan referensi pendidikan bagi publik.

Hal ini terlihat dengan tidak kooperatifnya salah satu kepala seksi (Kasi) bidang Pencegahan dan Pengendalian penyakit (P2P) dinkes kota Prabumulih yang diduga tidak mau berbagi informasi terkait penurunan jumlah masyarakat yang terkena penyakit infeksi menular seksual (IMS) dan penurunan pengidap penyakit HIV Aids.

"Saya bisa menjawab tapi nanti takut salah pak, Nanti tunggu saja pak Juadi M. Kes selaku Kabid P2P. Saat ini mungkin dia lagi di jalan dan belum ngantor," Kilah salah satu Kasi P2P kepada wartawan, Selasa (20/3/2018) sekitar pukul 15.32 WIB.

Sampai berita ini di publikasikan, Belum ada penjelasan terkait data statistik penurunan Pengidap penyakit AIDS. Sangat disayangkan, pernyataan Kepala Dinas Kesehatan Dr Happy Tedjo tidak didukung oleh salah satu Kasi dinas kesehatan tersebut.

Diberitakan sebelumnya, Dinas kesehatan (Dinkes) Kota Prabumulih mendata 152 orang  terindikasi  menderita penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS). Setidaknya ditahun 2016 terdata 140 orang dan awal januari 2017 sebanyak 12 orang.

Tentunya, hasil pendataan tersebut terpantau dari kunjungan pasien  disejumlah layanan kesehatan yang ada bumi seinggok sepemunyian ini, seperti di Pusat kesehatan Pasar I dan II, Patih Galung, Prabumulih Barat, dan Puskes Prabumulih Timur” Terang Kepala Dinas Kesehatan Kota Prabumulih Dr Happy Tedjo TS. Selasa 20 Maret 2018.

Menurutnya, ratusan pengindap  penyakit tersebut masih terus dipantau perkembangan kesehatannya. Para penderita penyakit IMS tersebut berpotensi terjangkit virus HIV jika tidak ada perubahan prilaku seks.

“Data Dari ruang arsip Dinkes Kota Prabumulih diketahui 16 orang positive HIV. Pasien pasien tersebut berasal dari berbagai daerah seperti  Kota Prabumulih, Kabupaten PALI, Kabupaten Muara Enim, dan  Kabupaten Ogan Ilir. Para pasien kini sedang menjalani pengobatan secara intensif karena jenis penyakit infeksi butuh jangka waktu yang cukup lama untuk pemulihan” Ujarnya.

Diketahui jenis penyakit IMS tersebut ,Sypilis ( raja singa), gonorhoe ( kencing nanah), kalmidia, herpes simpleks, dan jengger ayam (condiloma akuminata). Penderita biasanya mengalami gejala perih, nyeri dan panas saat buang air kecil.gatal di sekitar kelamin keluar cairan berbeda dari biasanya  bias memalui kemaluan ataupun anus, tumbuh kutil di sekitar kemaluan dan kantung testis (pelir) membengkak.

Katanya, para  pendeita IMS sangat  rentan terkena  virus HIV/AIDS. Penyebaran virus HIV lebih cepat 40 persen pada penderita penyakit IMS dan 60 sampai 80  persen melalui suntikan, pisau cukur dan prilaku seksual yang menyimpang.

Dalam rangka penangulangan penyakit IMS, pihak Dinas Kesehatan melalui  KB telah melalukan program penyuluhan yang melibatkan LSM Seperti Komisi penanggulangan AIDS (KPA). Pihak KPA  yang natinya akan mendata serta mensosialisasikan bagaimana cara meminimalisir tingkat pertumbuhan penyakit IMS dan HIV, Sedangkan pihak Dinkes hanya fokus untuk pengobatan

Happy Tedjo TS mengatakan untuk tahun 2018, Prabumulih termasuk ketegori Peringkat ke 4 di Sumatera Selatan setelah Palembang, OKI dan OI. Dibandingkan tahun 2017 kebelakang, kali ini tingakat penyakit IMS di Prabumulih jauh menurun.

" Di tahun tahun sebelum 2017  Prabumulih termasuk kategori ke 2 setelah kota palembang, Untuk tahun 2018 ini menurut data yang kami punya. Prabumulih termasuk peringkat ke 4 ketegori pengidap penyakit HiV. Untuk data lengkapnya, Nanti para rekan rekan bisa konfirmasi langsung dengan Juadi, M.Kes selaku Kabid P2P atau para kepala seksi (Kasi) yang membidangi, dan mereka pasti tau," tambah Happy Tedjo. (Ard)

Posting Komentar

0 Komentar